Jumat, 07 Januari 2011

Aku Bermimpi ‘Mencuri’ dari-MU, tapi Takut-Malu*

Kunyalakan batang rokok terakhir, rokok yang baru kubeli siang tadi. Ya, seperti biasa, ketika uang sudah pas-pasan aku selalu membeli rokok itu. Rasanya yang agak mirip Djarum Super, harganya juga murah. Bintang Biadab! Seorang temanku menyebut rokok itu. Memang bukan tanpa alasan ia namai begitu, karena saat dihisap, tenggorokan kadang terasa serik. Tapi aku tak peduli, yang penting hasrat merokok terpenuhi.



Sembari merokok, kulihat pemandangan hijau di samping kontrakan. Padi yang sebulan lalu ditanam petani, kini mulai tumbuh. Cukup lama aku menikmati ketenangan itu, sebelum akhirnya, “Krucuk-krucuk” suara perutku mulai mengingatkan bahwa sebagai raja, aku telah lupa untuk memberinya makan.



“Hssss…. Ah…” kuhisap dalam-dalam rokok yang masih seperempat batang, sampai-sampai tak sebanding antara yang kumasukkan dan yang aku keluarkan. Menipu! Hal itu selalu aku lakukan untuk meredam pemberontakan asam lambung yang tak sabar untuk menerima asupan agar oksidasi berjalan lancer. Aku katakan padanya bahwa tak ada bisa aku masukkan selain asap!



***

Lama aku merenung, berpikir tentang bagaimana mencari uang. Sebagai mahasiswa semester akhir, aku merasa malu untuk terus meminta biaya pada orang tua-apalagi sekarang aku sudah melewati batas studi. Belum lagi keempat saudaraku di rumah, mereka juga butuh biaya pendidikan.



Disela-sela lamunan, aku teringat kata ustadzku semasa Tsanawiah dulu. Menurut beliau, Tuhan adalah maha kaya, Maha pemilik segalanya, pemberi, Maha pengabul do’a, dan Maha dari segala Maha. Lalu, akupun berhayal untuk ‘mencuri’ apa yang ia punya. Agar aku bisa kenyang, membiayai adik-adikku dan meringankan beban orang tua. Namun, bukan berarti aku ingin menjadi atau merebut posisi Tuhan, karena menurutku itu berat-yang tugasnya mengatur seluruh makhluk yang ada di bumi. Setidaknya dengan hasil ‘curian’ kepunyaan Tuhan, aku malah bisa leluasa mengabdi kepadanya.



Buru-buru aku tepis pikiran itu, dalam hati kecil aku takut ‘dicap’ sebagai orang yang kafir, laknat, atau apalah yang mungkin bisa melegalkan sebagian orang untuk berucap, “Halal darahmu!” Kemudian aku teringat kembali penjelasan sang ustadz, bahwa semua ciptaannya sudah dijamin rejekinya. “Jangankan manusia, nyamuk saja sudah dipenuhi rejekinya” papar ustadzku itu.



“Hmm.. masa iya?” seakan tak terima, angan-anganku kembali melanglang buana pada kejadian yang terjadi satu tahun belakangan. Tepat ketika aku mulai merintis usaha ternak gurame-yang akhirnya gagal karena hanya sebagian yang hidup dan yang lainnya mati. Akupun rugi besar! Okelah, memang ini baru pertama kali. Tapi bukan berarti sebelumnya aku tidak belajar bagaimana cara berternak gurame. Toh aku juga sudah memperhitungkan dan mencari patner kerja sebelum memutuskan untuk terjun berternak.



Selang bebeberapa bulan, aku tak patah arang dengan banting setir berdagang pakaian batik. Bermodal uang pinjaman, aku dapatnya barang dari salah satu kenalan di tempat kosku dulu. Setiap hari aku harus menjajakan dagangan dari teman satu ke teman yang lain, dari rumah kerumah.Tetapi rata-rata dari mereka beralasan “Maaf mas, harganya kemahalan!” dan tak jadi beli. Padahal kalau boleh jujur, sebenarnya aku hanya mendapat untung Rp 2000 per biji jika terjual. “Masa iya kemahalan?” gerutuku dalam hati.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku tak ingin gagal lagi dengan merambah pasar online. Konon, kata seorang teman, akan ada banyak peminat jika berbisnis di dunia maya. Apalagi semenjak maraknya pengguna jejaring sosial.



***

Terhitung sejak mendaftar di salah satu jejaring sosial, aku semakin asyik menawarkan barang-barang dagangan. Kadang tak terasa bahwa aku telah manghabiskan banyak waktu di depan komputer yang dikoneksikan dengan internet. Akupun sering bolos kuliah, dan selalu lupa pada kewajibanku sebagai seorang muslim-sholat lima waktu.



Hingga suatu hari, aku kedatangan tamu yang sebenarnya tak kurapkan. Mereka adalah tiga orang teman yang meminjami uang modal usahaku. “Hey, katanya mau kau bayar sekarang?!!” ucap salah satu dari mereka. Dengan raut muka serius, mereka serasa membuatku mati lemas. Aku ingat, bahwa seminggu yang lalu telah berjanji untuk melunasi hutang. saat itu aku yakin bisa mengembalikan uang mereka, karena sedikit demi sedikit aku sudah bisa menyisihkan sebagian keuntungan bisnis onlineku. Namun, tiga hari setelah berjanji aku tertimpa musibah, yaitu ketika ibu pemilik rumah juga menagih uang kontrakan yang telat sebulan.



Alhasil, uang yang tadinya mau aku pakai untuk pelunasan modal usaha, justru digunakan untuk pembayaran kontrakan. “Hayo, jangan menghindar lagi! Selama ini kau juga jarang kelihatan di kampus!” umpat yang lain. “kita juga lagi perlu! Sebentar lagi ujian semester, besok hari terakhir pembayaran ujian.” lanjutnya. Akupun memaklumi keadaan mereka, karena sedianya uang yang selama ini aku putarkan dalam usahaku adalah uang kuliah mereka. Akhirnya, akupun terpaksa menjual barang yang selama ini menjadi penyanggah bisnisku; seperangkat komputer dan modem.



***

Tepat pukul 17.41 adzan maghrib berkumandang, akupun tersadar dari lamunan. Sebuah perjalanan melintas waktu setahun yang dikemas hanya setengah jam. Anak-anak kecil dengan riang berjalan menuju masjid yang letaknya tak jauh dari kontrakanku. Sebenarnya aku malu pada mereka, karena sampai saat ini aku masih enggan untuk menunaikan sembahyang.



Setidaknya, dalam diriku kini berkecamuk perasaan malu dan takut. Ya… disatu sisi aku merasa malu untuk mendekat pada-NYA, karena terkesan hanya merapat pada-NYA disaat butuh. Namun disisi lain, hal tersebut justru menunjukkan kesombonganku pada-NYA. Sebuah keangkuhan yang menunjukkan seolah aku bisa bertahan hidup tanpa bantuan-NYA.







Kutupatran, 17 Oktober 2010 I 01.25

*Kisah ini adalah fiktif, adalah sebuah kebetulan apabila terdapat kesamaan karaktek pelaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang mau "ngecret", monggo... salah-benar yang penting tertawa... hehehe