Lantunan lagu 'Mahameru' dari Dewa 19 terdengar keras ketika aku mulai istirahat menikmati segarnya danau 'ranu kumbolo', kurang lebih seperti ini "Mendaki jalan setapak, berjalan redu menahan berat beban." sontak aku sadar bahwa dalam perjalanan telah melewati rindangnya pohon cemara, bahkan tak jarang sedikit masuk kedalam hutan belantara. Bersama sahabat pencari makna ke”hidup”an.
Tak lama kemudian, aku teringat tentang perkataan salah seorang kawan, "Jurang terjal dan curam bukanlah halangan, erangan hewan buaspun hanya jadi hiburan atau. Kabut tebal bukanlah penghalang untuk tetap melangkah, karena walaupun mata terhijab, perasaan manusia masih bisa memilih antara mana jalan atau mana jurang." Udara dingin memberi nuansa baru tentang kepolosan.
Berjalan, melangkah, mendaki, dan terus berjuang. Itulah cerita heroik yang akan selalu mengiringi para penakluk diri. Ya, mereka yang mencoba meghilangkan “ego” keakuannya dengan naik gunung. Mereka uji diri dengan menjadikan alam sebagai teman. Memang tidak mudah, apalagi jika hal itu dianggap gila. Ketika dunia lantang oleh teriakan janji-janji palsu para elite politik. Saat ucapan terdengar merdu dan banyak orang mulai pandai bernyanyi, membual, merayu dan semuanya omong kosong.
Tidak ada pemandang indah yang dapat kita nikmati di kota. Sudut-sudutya ditumbuhi aneka warna yang lengkap dengan logo munafiknya. Kicauan burungpun terusik oleh kepulan asap kendaraan. Gedung-gedung tinggi bersaing untuk tujuan kebahagiaan semu “uang”. Bersamaan dengan itu, mereka hanya bisa membiarkan seorang anak yang kelaparan mengemis di simpang jalan. Jika sudah demikian, tak ada lagi setitik hati yang tersisa. Manusia kota terjebak dalam bias ke”aku”an. Kepolosan dianggap sebagai sebuah ketertinggalan, tapi tidak bagi mereka yang bermulut besar. Mereka hanya mau bergerak jika ada materi yang dapat menguntungkan.
Agamawanpun tak mau ketinggalan, mereka hanya mencari jejak-jejak Tuhan didalam gereja, masjid, dan tempat-tempat persembayangan suci lainnya. Tak ada kepekaan sosial yang mereka miliki, mereka bunuh ego dengan dalih membela Tuhannya.
Setelah itu semua, hendaknya kita menyadari, bahwa kecerdasan saja tidak cukup membawa keseimbangan. Maka dari itu, bersahabat dengan alam cukup relevan jika dijadikan pilihan dalam upaya mewujudkan keselarasan antara Manusia, Tuhan, dan Lingkungan. Itu semua dapat dimulai dengan kita mendaki gunung!
Ranu kumbolo, 17 agustus 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Yang mau "ngecret", monggo... salah-benar yang penting tertawa... hehehe