Jumat, 07 Januari 2011

Keluh Kesah Uki*

‘Hidup adalah Perjuangan’

Selalu terpupuk dalam hati dan tertanam dalam benak tiap insan, bahwa memang dibutuhkan perjuangan dalam hidup. Kata mutiara tersebut juga mengispirasi salah satu grup band papan atas untuk sekedar mendendangkannya. Baru-baru ini, telah nyata didepan mataku, seorang pemuda yang ‘pontang-panting’ setiap hari demi mempertahankan hidup. Sebut saja uki, seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta yang rela menjual beberapa meter sawahnya untuk melanjutkan studi.

Berbekal restu dari kedua orang tuanya, pemuda tersebut ‘nekat’ memulai petualangan intelektualnya menuju kota Yogya. Awalnya, ia menetap sambil bekerja di salah satu kantor Provinsi suatu partai politik (parpol) sebagai tukang bersih ruangan. Tiap hari, ia lalui hidup dengan kuliah dan bekerja.
Setahun kemudian ia memutuskan untuk keluar karena adanya ketidakcocokan antara ideologi partai tempatnya bekerja dengan prinsip yang telah ia pegang teguh. Meski setiap bulan ia menerima gaji dari parpol sebesar tiga ratus ribu rupiah. Maklum, selama Sembilan belas tahun dirinya selalu memperoleh pemahaman agama yang toleran pada kultur serta mengakui empat madzab dalam fiqih. Sedangkan di kantor tersebut cenderung fundamentalis dan ‘kearab-araban’.

Kemudian, seorang dosen menawarinya untuk tinggal dan merawat sebuah rumah milik saudaranya. Tetapi, hanya tiga bulan ia bertahan di rumah tersebut. Wajar, perlakuan semena-mena pemilik rumah yang membuatnya tidak kerasan. Di tempat itu, Uki hidup bak pembantu. Betapa tidak, setiap hari ia harus bekerja secara ‘kasar’, padahal tujuannya datang ke Yogya ialah dalam rangka menuntut ilmu.

Lama Uki hidup ‘nomaden’ dari kos teman ke tamannya yang lain. Hingga pada akhirnya ia mendapatkan kos secara ‘gratis’ dari seorang ibu tua yang telah lama ditinggal suaminya. Bersama dua orang teman, ia melalui hari-hari dengan kekompakan.

Setiap enam bulan, Uki memperoleh beasiswa dari sebuah yayasan sosial milik seorang Bu Nyai sebuah pesantren di Jombang sebesar Rp 600.000. Uang tersebut digunakan untuk menunjang biaya pendidikannya. Walaupun begitu, Uki tetap harus memeras keringat untuk mencari tambahan dana untuk kuliah. Selama ini, ia mencoba bertahan hidup dengan mengamen dan bergabung dengan Serikat Pengamen Indonesia.

Namun, pagi tadi (4/1), sesuatu yang sangat kejam terjadi di kampus yang konon dikenal sebagai kampus kerakyatan. Seperti biasa, mahasiswa diharuskan telah membayar SPP sekaligus BOP sebelum mengikuti ujian akhir. Uki khawatir dan bingung bukan main. Sebab, pada semester kali ini ia tidak memperoleh beasiswa BOP dan ia mengambil 23 sks. Bisa dibayangkan, berapa jumlah yang harus dibayarnya jika per sks dihargai Rp. 60.000. Jadi, bagaimana Uki bisa mengikuti ujian sedangkan ia hanya mampu membayar SPP, itupun dari beasiswa .

Mulanya, ia mencoba untuk meminta dispensasi atau penundaan pembayaran. Tetapi, bukan keringanan yang diberikan oleh kepala staf akademik, melainkan suatu sikap cuek dan ‘kolot’. Sebagai pihak yang berwenang untuk mengizinkan mahasiswa mengikuti ujian atau tidak, dengan tegas mewajibkan Uki untuk tetap harus melunasi BOP.

“Sampean ga ngerti rasane dadi wong ‘kere’? Tak dungakno bar iki sampean dadi wong ‘kere’, ben ngerti rasane.” Umpat Uki yang mengeluarkan kekesalannya kepada ibu kepala staf akademik. Sekembalinya ke kos, ia menceritakan semuanya kepada teman sekosnya. Mulutnya menggerutu, Uki menyesalkan sikap angkuh birokrat pendidikan tempatnya kuliah. Dan memang, “hidup adalah perjuaangan”-tambahnya.


* kisah nyata seorang sahabat.
Mlangi 3 Januari 2010 I 00.00 wib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang mau "ngecret", monggo... salah-benar yang penting tertawa... hehehe