Jumat, 07 Januari 2011

Teko Rai Medun Ati*

Suatu malam di sebuah warung di Surabaya. Seperti biasanya, dua orang pemuda membincang masalah yang 'mengawang-awang' dan selalu tak jelas.

Sebut saja somad, remaja berusia 20 tahun ini memiliki tingkah jenaka sekaligus kocak. layaknya lelaki seumurannya, iapun tak canggung untuk sekedar menggoda wanita-wanita yang melintas di depan warung. Namun, dibalik gayanya tersebut, ia juga senang merenungi hidup. Sehingga, tak jarang pemikirannya dicap 'nakal' oleh teman-temannya.

Sedangkan Abdul, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di surabaya ini merupakan sahabat karib si somad. kesibukannya pada game, seringkali membuatnya bolos kuliah dan menjadikan otaknya sedikit loading jika diajak bicara.
Pada saat bersamaan, terdapat seorang wanita yang membeli gorengan di warung yang sama. Seolah terpukau, Abdul secara tak sengaja membuka obrolan warung kopi (Obwakop) malam itu.

Abdul : "Ayo mad, gelem tak golekno pacar?"

Somad : "Hmmm... lek awakmu sing golekno, aku kurang yakin..." (dengan raut muka mengejek)

Abdul : "Emang seleramu tipe piye?"

Somad : "Aku? yang jelas harus berwajah cantik, manis, bodinya semlehoy, dan yang casingnya... mantablah pokonya..."

Abdul : "Wah mad... serius selera kaya ngono?"

Somad : "Yo serius lah... emange koen, waton ae!!!"

Abdul : "Kamu ga takut tertipu penamilan luar? kalau aku mah, sing penting atine... "(diselingi senyum ketus)

mendengar perkataan Abdul, tiba-tiba somad tertawa terbahak-bahak.

Abdul : "Lapo mad, gendeng koen?"

cukup lama somad mencoba menghentikan tawanya, kemudian iapun meminum seteguk kopi hitam yang dipesannya tadi. lalu, disulutya sebatang rokok yang telah diapit kedua jarinya.


Somad : "Ngene loh bos... atine wong, sopo sing iso ngerti?"(tanyanya dengan mimik wajah serius)

Abdul : "maksudmu?"

Somad : "Lha emang koen ngerti atine wong liyo?"

Abdul semakin penasaran, pertanyaan Somad seolah menjadi teka-teki baginya. belum selesai ia berpikir, somad kembali memberinya pertanyaan yang tak kalah membingungkannya.


Somad : "ga uah adoh-adoh... awakmu iso ngerti ta perasaane bapakmu pas nggepuki awakmu?"

Abdul : "yo jenenge wong tuwo lek nggepuk, berarti lagi mangkel."

jawaban polos Abdul, kembali membuat somad tertawa. Tak lama kemudian, ia mengolok-olok temannya tersebut.

Somad : "goblok!!!"

seakan tak terima, abdul mengucapkan kata-kata khas surabaya. Namun, pikirannya masih bertanya-tanya tentang maksud Somad.


Abdul : "Jan**k!! maksudmu?"

Somad : "duduk ngono je.... ngene loh, iso ae wong tuwo nggepuk kerono sayang nak anak e, yo kan?"

Abdul : "Trus, opo hubungane karo wong wedok sing awak dewe bahas?"

Somad : "Lha... sing koyo ngunu ae koen ga iso mbedakno, ndahneh atine wong wedok?"

Abdul : "Yo sak nggak e teko tingkah laku bendinane, jo..."

Somad : "halah.. t**k!! yo justru iku sing ndadekne masyarakat ga maju-maju..."

Abdul : "Ealah... ko' nyambunge malah sampek kono?"

Somad : "iyo, gampang dibujuk i... ndelok wong apik langsung diomong apik..."
Abdul : "Lha, trus karepmu yo opo? ga oleh percoyo nak wong, ngono ta?"
Somad : "sopo sin ngomong ngono? maksudku, awak dewe mending skeptis ae..."
Abdul : "skeptis opo iku?"

Somad : "Yo ga gampang percoyo nak uwong, kasarane meragukan... ngono, c*k!!"
Abdul : "Oh... iyo yo... podo karo golek cewe. Podo-podo iso ketipune, mending melu kriteriamu yo, c*k?"
Somad : "hahahaha.... iyo, ayu semelehoy iso ae apik, yo iso ae bejad. Tapi yo ngono, enek juga sing elek iso ae apik, lan iso ae bejad!!"

Melihat kawannya yang menggeleng-gelengkan kepala, Somad kembali melanjutkan pemaparannya...


Somad : "sek, awakmu tak takoni. Lha nek koyo ngono, awakmu milih ndi?"
Abdul : "Wah... Lek ngono, aku tak nggolek sing ayu ae yo, c*k!!"

Somad : "Nah... lek urusan ati, cuma pengeran sing ngerti..."

Abdul : "ho'oh, mumpung se enom... golek ae sing uayu ae yo. Paling ga, lek ketipu se enek untunge... kan lek golek atine, podo ae iso ketipu."

Selepas Abdul berlogika (mungkin ae sesat), mereka berdua menghabiskan malam dengan canda tawa hingga tak terasa adzan shubuh berkumandang. Ya... Ya... singkatnya, dari rupa turun ke hati. Dasar, memang begitulah obrolan lepas warung kopi. (Sam's)


* Kisah ini adalah fiktif. Adapun jika terdapat kesamaan nama dan karakter tokoh adalah sebuah kebetulan belaka.

Sidoarjo, 090210
03.00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang mau "ngecret", monggo... salah-benar yang penting tertawa... hehehe