Jumat, 07 Januari 2011

Lawakan Politik Wakil Kita?* (bagian 1)

Tiap hari, mulai dari pagi sampai tengah malam, tiada henti televisi memberitakan rapat paripurna anggota dewan di Senayan. Cukup lantang, ketika salah satu grup di facebook berkomentar,"kuwi rapat paripurna opo karang taruna,c*k?"

Saya membayangkan, (mungkin) sebagian besar masyarakat mulai jengah dengan tingkah para wakilnya. Betapa tidak, sampai saat ini kasus bank century masih belum menemukan kejelasan.
Salah seorang kawan pernah berucap, “ini republik dagelan, coy.” menurutnya, hal tersebut didasarkan pada carut marutnya keadaan sekarang. Ia juga memaparkan, bermula dari parpol yang terhitung ada 48. “jika dilogika, bayaknya partai memperlihatkan adanya berbagai kepentingan.” ungkapnya.

Lalu, pada saat pemilu, rakyat yang bingung menentukan pilihan justru disudutkan dengan fatwa haram golput oleh MUI. Hingga rakyatpun memilih, dan terpilihlah calon incumbent beserta kemenangan mutlak partainya.

Namun, belum genap 100 hari, kembali masyarakat disuguhi guyonan politik 'artis-artis' senayan. Pencairan dana talangan senilai trilyunan kepada bank century, ternyata menimbulkan kontrversi. Dengan sigap, DPR membentuk pansus untuk menginvestigasi kasus tersebut. Tak jarang, dalam melaksanakan tugasnya, sesama angota pansus beradu argumen. Lucunya, perang pendapat terkadang melupakan etika politik.

Sebagai contoh, dalam ruang sidang yang terhormat terucap kata, “Bangsat!” Meski muncul pembelaan bahwa kata tersebut merupakan sebuah singkatan sebuah nama (Bambang Susatyo-red). Tampaknya, hal demikian terlanjur menyakiti para pemirsa setia “sinetron pansus century”.

Masih tentang wakil rakyat, ketika masa kerja pansus usai, tugas mereka selanjutnya ialah mengumumkan pihak-pihak yang dinilai bertanggung jawab atas proses builout. Dan, (lagi-lagi) rakyat disuguhi 'eyel-eyelan' tentang penting-tidaknya penyebutan nama. Bukan itu saja, masing-masing fraksi juga menyipkan lobi-lobi untuk menyelamatkan orang-orangnya.

Terkait masalah century, seorang dosen juga pernah 'sambat'. “Lha iyo mas, padahal dana sudah dikucurkan. Tapi kok tetap banyak nasabah yang merasa belum menerima uang tabungannya di bank centuri?”-kelunya.
Aneh memang, tapi itulah wakil kita?




Yogya, 4 Maret 2010
01.30

*Tanpa bermaksud melanggar UU ITE, tulisan ini hanyalah hiburan dan keprihatinan. Bila ada saran dan kritik, langsung saja sampaikan. hehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang mau "ngecret", monggo... salah-benar yang penting tertawa... hehehe