Jumat, 07 Januari 2011

Lawakan Politik Wakil Kita? (Bagian 6)

Lika-Liku Drama Markus

Susno duadji, mantan Kabareskrim mabes Polri ibarat aktor dalam sebuah drama. Sebagian penonton menganggapnya bak tokoh protagonis, karena keberaniannya membongkar borok institusi yang menghidupinya. Tak hanya itu, berdalih ingin menegakkan kebenaran, kerap kali ia tampil di hadapan media tanpa rasa takut sedikitpun.

Susno, memang sosok kontroversial yang seringkali sikap dan pernyataannya mengundang reaksi dari masyarakat. Mulai dari analoginya tentang perseteruan Polri dengan KPK yang bagaikan pertarungan ‘cicak’ versus ‘buaya’. Lalu, pertemuannya dengan Anggodo Widjojo di Singapura, padahal nama tersebut adalah buronan KPK. Belum lagi penangkapan dua petinggi KPK oleh Bareskrim, badan yang dipimpinnya. Kemudian, kesaksiannya dalam persidangan kasus Antasari Azhar. (Kompas, 14 Mei 2010) Hingga perseteruannya dengan Syahril Djohan yang kini malah membuatnya menjadi tersangka.

Cerita dimulai ketika Susno menuding adanya persekongkolan Polri dengan Dirjen Perpajakan dalam penanganan kasus. Lantas lahirlah Gayus Tambunan yang dikenal sebagai makelar kasus (markus) yang merugikan negara hingga miliaran rupiah.

Belakangan, pengungkapan adanya markus kian menyeret beberapa petinggi Polri. Ia menyebutkan, bahwa sejumlah jenderal dituding terlibat perkara pajak senilai Rp.25 Miliar. Kasus lain yang dibeberkan Susno pada publik ialah dugaan adanya makelar dalam penanganan perkara penggelapan PT Salmah Arwana Lestari. (Kompas, 14 Mei 2010)

Namun, tak sedikit pula pemirsa yang menganggap Susno sebagai tokoh antagonis. Sebagai mantan orang nomor satu dalam penangan kasus kriminal di Indonesia, kiranya muncul pertanyaan, “kenapa baru sekarang ia membeberkan kasus yang terjadi di masa ia menjabat?” Bahkan kini Susno dinyatakan sebagai tersangka lantaran dituduh turut menerima suap.

Dramapun berlanjut pada penangkapan Susno oleh Polri. Namun, hal tersebut mengesankan seolah-olah Polri setengah hati menegakkan keadilan. Sebab, setelah ditetapkan sebagai tersangka, konsentrasi Polri tidak lagi pada pengakuan-pengakuan Susno yang mestinya diproses. Tapi, lebih pada pengusutan tuduhan keterlibatan Susno sendiri. Ini berarti sama halnya Polri berupaya membungkam Susno serta mengamankan oknum-oknum yang mestinya terlibat markus.

Layaknya sebuh pementasan, kadang kala kisahnya malah membuat penonton bingung. Terlepas dari mana kita memandang sosok Susno Duaji, yang lebih penting ialah pemberantasan mafia kasus dalam tubuh Polri. Penetapan mantan Komjen berbintang tiga itu kiranya menjadi sesuatu yang terburu-buru. Hal ini bisa saja membuat markus-markus yang bersembunyi di ketiak kepolisian masih merasa aman.
Mestinya, Polri membiarkan dulu Susno ‘mengoceh’ biar semakin banyak nama yang disebut. Jadi, saat susno selesai, barulah kepolisian menjaring anggota-anggotanya yang berbuat menyimpang, sekaligus mereformasi total. Toh, Susno sendiri nanti juga bisa saja terseret jika memang benar ia sendiri terlibat. Kecuali bila Polri menganggap drama Susno hanyalah dongeng, yang bersifat fiktif dan tak perlu ditanggapi. Akhirnya, penontonpun kecewa.


Kuturaden, 18 Mei 2010 I 21.30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang mau "ngecret", monggo... salah-benar yang penting tertawa... hehehe