Jumat, 07 Januari 2011

Sisa Tawa Hari Kemarin

Malam tadi (17/5) berbekal uang dua puluh ribu yang tersisa di saku celana, aku pergi ke kampus. Niatnya ingin nongkrong dan ngobrol-ngobrol dengan kawan-kawan 'penjaga' kampus, tapi aku urungkan niat karena ada acara rutin. Jarum jam menunjukkan pukul 18.15 WIB. Ya, ini adalah malam 18 di bulan mei. Tanda ada kumpul-kumpul rutin di Kasihan, Bantul.

Akhirnya aku berbelok ke kost teman dan mengajaknya pergi ke Bantul. Sekitar sejam aku dikost temanku itu. Nonton TV, internetan, dan mandi. Kemudian kitapun berangkat mengendarai mio merah berplat E. Tanpa jaket, kulaju motor dengan kecepatan 60 KM/jam.

Sekitar dua puluh menit perjalanan menuju kasihan. Setelah memarkir kendaraan, terlihat orang-orang sudah berkerumun mendengarkan guyonan yang disampaikan cak nun. Seolah tak mau ketinggalan, kami segera mencari tempat yang enak biar bisa mendengarkan juga.

Salah satu 'dagelan' cak nun malam itu ialah tentang keharusan bekerja keras dalam hidup. Menurut cak nun, selama ini sebagian besar masyarakat Indonesia telah keliru dengan beranggapan bahwa kita mesti mencari rizki dalam hidup. Hal tersebut lantas membuat manusia menghalalkan segala cara dan berpikir instan.

Lalu, lelaki bernama asli MH Ainun Najib itu melanjutkan, jika kita berasumsi kita mencari rizki dalam bekerja, sama halnya kita memungkiri tanggung jawab Sang Pencipta. Jadi, rizki sebenarnya hak yang mesti kita peroleh. “Lha gusti Alloh nggawe menungso, mosok ra tanggung jawab?” tanya cak nun pada hadirin. Terlebih ketika kita bertuhan dan mewujudkannya dengan menjalankan perintah-Nya yang salah satunya ialah bekerja keras.

Ia juga menilai, bahwa pola pikir seperti itu tak lepas dari apa yang diajarkan dalam pendidikan kita selama ini. “Hak dan Kewajiban, kuwi kuwalik. Kudune Kewajiban dan Hak” jelas cak nun. Dari sesuatu yang terbalik tersebut akhirnya kita terbiasa menuntut hak dulu sebelum menunaikan kewajiban.
Lucunya, negara justru memakai pola pikir yang terbalik itu. Contoh sederhana adalah; Pajak. Sebagaimana iklannya yang sering dikampanyekan,”hari gini ga bayar pajak?” Hal ini menunjukkan, bahwa negara sangat rajin menuntut haknya (menerima pajak), sedangkan kewajiban menyejahterakan rakyat terkesan nol. Untuk itu, ia mengandaikan dunia menjawab kelanjutan iklan tersebut,” apa kata dunia? Yo ra popo, emang kate lapo?” pungkas cak nun disusul tawa para hadirin malam itu.

Perumpaan lainnya ialah, TKW. Selama ini para perantau seringkali mengalami nasib memprihatinkan di negeri orang. Bahkan tak jarang mereka dianiaya majikannya, tetapi sangat minim perhatian pemerintah pada mereka. Padahal, mereka juga penyumbang devisa negara.

Memang, tadi malam Cak Nun tampil seperti biasanya. Ia selalu mengesankan bahwa di Indonesia, masih banyak 'orang-orang bahagia' di tengah kondisi seperti di atas. Kiranya tak salah pula jika duduk, merokok, dan menertawakan diri sendiri. Toh tak ada aturan yang melarangnya. Itung-itung hiburan gratis daripada mengahabiskan malam untuk hal yang negatif.




Samirono, 18 Mei 2010 I 04.39

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang mau "ngecret", monggo... salah-benar yang penting tertawa... hehehe