“Kearifan (wisdom, hikmah) tidak hanya dimiliki oleh suatu agama atau ras tertentu, tetapi oleh semua agama dan ras. Siapapun yang memperoleh kearifan adalah seorang sufi, karena tasawuf sendiri berarti kearifan.”-Inayat Khan-
Tasawuf sebagai Salah Satu Tipe Mistisisme
Mistisisme, secara bahasa berarti pengalaman batin, khususnya berciri religius. Dalam mistisisme menekankan dan mengutamakan penghayatan akan Tuhan dalam hubungannya secara langsung. Istilah mistisisme pertama kali digunakan oleh Dionisius Aeropagita, mengacu pada teknik via negativa (jalan negative). Maksudnya, sebagaimana tradisi filsafata barat (positivistik), adanya dualisme materi dan jiwa. Materi diidentikkan sebagai positif, dan jiwa sebagai jalan negatif (spiritual). Menurut Russel, mistisisme pada hakekatnya tidak lebih dari intensitas dan kedalaman tertentu dari perasaan mengenai apa yang diyakini tentang alam semesta. (Russel, 2009:130)
Filsafat mistik memiliki ciri kepercayaan yang digambarkan dalam: Pertama, kepercayaan pada pengetahuan langsung (insight) yang dibedakan dengan pengetahuan diskursif. Permulaan mistik ialah keraguan akan pengetahuan umum dan memberi jalan bagi masuknya kebijaksanaan yang lebih tinggi. Kedua, mistisisme adalah kepercayaan pada kesatuan (unity), dan menolak mengakui pertentangan dan pembagian dimana saja. Ketiga, penolakan pada realitas waktu. Sebagai hasil penolakan sebelumnya, ini merupakan anggapan bahwa semua adalah satu. Artinya, perbedaan masa lampau dan masa yang akan datang adalah semu.
Namun, Sayyed Hossein Nasr menolak istilah mistisisme untuk tasawuf. Alasannya, karena mistisisme mengandung konotasi pasif dan a-intelektual, sehingga tidak digunakan istilah yang sama dalam tasawuf. Dalam kata pengantarnya di buku Kamus Ilmu Tasawuf, Drs. Totok Jumantoro, M.A dan Drs. Samsul Munir, M.Ag menyebutkan, dalam tataran teoritis kajian tasawuf, bahwa karakteristik mistisisme secara global dapat ditandai dengan empat gejala, yaitu:
1. Mistisisme adalah suatu situasi dan kondisi pemahaman dan pengalaman dari semacam ilham dengan tersingkapnya hakikat realitas.
2. Mistisisme hampir tidak dapat diterangkan secara deskriptif sehingga tidak mungkin diinformasikan, karena ia merupakan perasaan jiwa.
3. Mistisisme merupakan kepekaan jiwa yang meletup-letup, serta meninggalkan kesan (persepsi) yang sangat kuat.
4. Bahwa kemampuan seseorang untuk sampai pada tingkat mistikus, datang dari luar dirinya yang merupakan suatu kekuatan supranatural.
Pada lingkup inilah tasawuf dapat dilihat sebagai salah satu tipe mistisime religius yang mempunyai cirinya sendiri. Karena ia dilandasi dan dijiwai dari konsep-konsep yang berasal dari Tuhan. (Totok&Samsul, 2005:3)
Dialog antara Tasawuf dan Perenialisme
Islam sebagaimana dijelaskan oleh Dr. H. Abu Yasid memiliki sistem perpaduan antara dimensi esoterik (‘aqidah) dan dimensi eksoterik (Syari’ah). Tasawuf sendiri, adalah salah satu metode untuk mengantarkan kita pada dimensi esoterik tersebut. Intinya, tasawuf juga mengajarkan pentingnya mengamini keimanan dengan perdamaian. Salah satu ajaran penting dalam tasawuf ialah mewujudkan upaya mencintai Tuhan.
Dalam rangka mendialogkan tasawuf dengan perenialisme, tidak ada salahnya apabila kita menilik pemikiran Iluminasi Syihab al-Din Yahya Suhrawardi. Iluminasi Suhrawardi (pancaran cahaya) digambarkan oleh Kautsar Azhari ialah hasil dialog spiritual dan intelektual yang dilakukan dengan tradisi-tradisi dan agama-agama lain.
Adapun sumber filsafat iluminasi berasal Hermes Agathodemon (dalam islam disebut sebagai nabi Idris). Kebijaksanaan iluminasi ialah aktualisasi otentik “filsafat perennial” (hikmat ‘atiqoh) umat manusia mempuyai sumber awalnya pada wahyu-wahyu ilahi yang diterima nabi Idris, yaitu Hermes. Dengan demikian menjadi “nenek moyang” filsafat.
Kebijaksanaan Hermetik ini kemudian menyebar kepada generasi-generasi selanjutnya melalui dua jalur: Yunani Mesir dan Iran kuno. Cabang pertama hermetisme, setelah berkembang di Mesir kuno, tersebar di Yunani, yang kemudian melahirkan para bijak gnostik seperti Phytagoras, Empedokles, Plato, dan Plotinos. Tradisi ini kemudian dipertahankan oleh Dzun al-Nun al-Mishri.
Cabang kedua Hermetisme Iran kuno oleh pendeta-raja mistik Kayumarth dan berkembang dalam tasawuf Abu Yazid al-Bisthami dan al-Hallaj. Suhrawardi menyatukan dan memadukan kedalam keseluruhan organik eksistensial seluruh unsur penting dari kebijaksanaan Hermetik yang dihasilkan dalam rangkaian perkembangan historisnya.
Agama-agama lain bagi Suhrawardi turut memperkaya pemahaman tentang islam. Ia-pun mempertegas bahwa disinilah letak universalitas islam. Karena mencakup agama-agama lain dalam pengertian esoteriknya. Singkatnya, kebijaksanaan perenial dalam agama-agama lain adalah juga kebijaksanaan perennial dalam islam.
Daftar Pustaka :
- Prof. Mahmud. Abdul Halim, 2002, Tasawuf di Dunia Islam, Pustaka Setia, Bandung
- Russell B, 1999, Russell on Religion (terjemahan : Bertuhan Tanpa Agama), Baehaqi Imam, 2009 Resist Book, Yogyakarta
- Nasr. Sayyed Hossein (editor), 2003, This Translation of Islamic Spirituality: Manifestations (terjemahan), Mizan Media Utama, Bandung
- Nicholson, Reynold. A, 2002, Gagasan Personalitas dalam Sufisme, (suntingan) :Syihabulmillah A, Pustaka Sufi, Yogyakarta
- Drs. Jumantoro, Totok& Drs. Amin, Samsul Munir, 2005, Kamus Ilmu Tasawuf, Amzah, Yogyakarta
- Bagus. Lorens, 2000, Kamus Filsafat, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
- Noer. Kautsar Azhari, 2003, Tasawuf Perenial “Kearifan Kritis Kaum Sufi”, Serambi Ilmu Semesta, Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Yang mau "ngecret", monggo... salah-benar yang penting tertawa... hehehe