Jumat, 07 Januari 2011

‘Fitrah’ : Peleburan Akal dan Nafsu ?

Malam ini (19/09), langit-langit sudut kota Surabaya dipenuhi percikan kembang api tanda kebahagiaan. Beberapa pemuda dan anak-anak juga tampak bersuka cita mengumadangkan takbir. Idul fitri, ya! Telah jamak dipahami sebagai hari kemenangan.

Namun masih saja tak-ku mengerti, kemenangan seperti apa yang telah diraih pada hari nan fitri ini. Betapa tidak, jika aku berpikir bahwa puasa diartikan sebagai pengekangan terhadap nafsu, maka seburuk itukah nafsu hingga layak ia direpresi, dan kita menyebutnya kemenangan saat berhasil melakukannya?
Sering kali saya medengar bahwa nafsu cenderung mengajak pada kemungkaran, dan sumber kehancuran manusia. Kali ini, aku ragu. Sebab hal itu tidak dialami makhluk lain (hewan). Justru nafsu pada hewan bersifat statis dan dalam rangka menjaga keberlanjutan suatu rantai makanan. Lantas, benarkah nafsu yang membuat manusia tergelincir?

Selama ini manusia cukup bangga pada akalnya, dan akal dipandang sebagai anugerah terbesar. Padahal, akal juga tak lepas dari misteri. Sampai saat ini, pertanyaan tentang apa dan bagaimankah akal itu belum juga terjawabkan.

Pada dasarnya, sebelum menggunakan akalnya, bisa jadi manusia senantiasa dihinggapi oleh nafsunya terlebih dahulu. Mungkin untuk lebih jelasnya, kita bahasakan nafsu sebagai suatu keinginan yang berangkat dari rasa penasaran. Dan kalau memang demikian, apakah nafsu sepenuhnya buruk, hingga layak kita anggap ia sebagai musuh dan harus kita perangi di bulan ramadhan?

Sebagaimana umumnya, kita menganggap orang yang yang berpikir ialah orang yang menggunakan akalnya. Justru saat ini aku menduga, yang mengajak (pemantik) manusia untuk berpikir ialah nafsunya. Hal itu kemudian menjadikan manusia berbeda dengan makhluk Tuhan yang lain.

Dalam agama, disebutkan tentang adanya pembagian (proses) nafsu. Amarah, lawwamah, dan muthmainnah. Pada titik ini, aku berpandangan bahwa nafsu merupakan suatu keinginan dan sikap penasaran manusia. Terutama pada prosesnya, akal ibarat seorang pengantin yang mengiringi perkembangan nafsu, dari yang terendah (amarah) sampai pada tingkat yang paling tinggi (muthmainnah).

Setelah tiga puluh hari menunaikan ibadah puasa, shalat tarawih, serta tadarus al qur’an. Tanpa memiliki nafsu, aku pikir tak akan ada kegiatan-kegiatan seperti itu di bulan penuh berkah ini. Jadi, maksud kembali fitri di hari yang suci ialah peleburan nafsu dan akal.
Dengan demikian, pada hari ‘idul Fitri, selayaknya kita matang sebagai manusia untuk menjadi seorang muslim sejati. Karena itulah kemenangan!

Surabaya, 20 september 2009 I 00.00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang mau "ngecret", monggo... salah-benar yang penting tertawa... hehehe