Adzan shubuh terdengar nyaring berkumandang, membangunkan manusia-manusia dari mimpi indahnya kala istirahat di malam hari. Di balik tembok mushola, sesosok priatampak masih asyik dengan tidurnya. Fathul Husain, salah satu penghuni kos Raditya.
Fathul tak lain adalah seorang pemuda yang telah mampan secara usia untuk segera menikah. Namun meski usianya sudah mencapai kepala tiga, sampai saat ini dirinya masih sulit untuk mencari pasangan hidup. Sebagai seorang sales sebuah toko bangunan, Fathul memiliki tanggungan biaya pendidikan adiknya yang masih kecil serta orang tuanya sudah senja dan sakit-sakitan.
Fathul bukan termasuk orang yang anti untuk memiliki seorang kekasih. Kerjaanya yang mondar-mandir untuk menawarkan barang, memberinya kesempatan untuk sekalian melirik-lirik gadis yang berlalu-lalang di sepanjang jalanan kota Yogyakarta. Jarum jam menunnjukkan pukul ½ 2 siang, fathul teringat sebuah janji dengan seorang penjual bahan bangunan yang tertarik dengan barang-barang yang ditawarkan Fathul tempo hari di derah Beringharjo.
Sesegera mungkin fathul memacu motornya, meski jalanan di sepanjang jalan Kyai Mojo tampak padat, ia tak peduli. Seketika itu pula, motor Honda Supra X buatan 1999 miliknya ia paksa untuk menerobos kemacetan. Saking kencangnya, beberapa kali ia hampir menabrak penyebrang jalan. “Woi, lek mlaku alon-alon, dab! Iki duduk dalane mbahmu !”, umpat seorang pemuda yang hampir saja ditabraknya. Seolah tidak memperdulikan, Fathul tetap menginjak gas motornya dalam-dalam, karena waktu sudah tinggsl 10 menit lagi. Sambil menggerutu dalam hati, Fathul berharap pengusaha yang janjian dengannya mau memaklumi seandainya ia tiba terlambat di tempat tujuan.
Jam 2 lewat 15 menit, fathul tiba di pasar beringharjo, tanpa basa-basi ia langsung memarkir kendaraanya di pinggir jalan. Sadar akan keterlambatanya, Fathul langsung berlari ke toko pak Ahmad, pengusaha yang tertarik pada barang-barang yang ditawarkan fathul.
“selamat siang pak, maaf saya terlambat, saya…” ujar fathul sambil…
“wes toh mas, sesok-sesok ojo ngono neh, kulo niki wes nunggu sampean sui.. lek golek rejeki niku kudu disiplin!!.” Cela pak Ahmad dengan kesal atas keterlambatan fatkhul.
Setelah ngobrol dan transaksi berlangsung lancar, fathul kembali menuju parkir motornya. Dengan perasaan senang karena barang dagangannya tetap jadi dibeli, ia hidupkan mesin motornya. Namun, pandangannya terpaku pada seorang remaja di sebuah sudut toko. Tanpa berkedip, ia pusatkan tatapannya pada wanita yang membawa barang-barang belanjaan. Tak lama berselang, seorang penjaga parkir membuyarkan konsentrasinya pada perempuan tersebut.
“monggo ndang mlaku, kang… Mpun katha sing antri ten burine sampean…” tutur petugas parkir.
“Oh.. nggeh mas, ngapunten… ngapunten”, sahut Fathul.
Ternyata petugas parkir memperhatikan tingkah fathul yang terpana pada sesosok hawa di sudut toko, tanpa sungkan petugas tersebut memberi tahu sedikit informasi tentang wanita tersebut.
“asmane Sukma, kang… putrine pak Ahmad sing nggadah toko bangunan niko (sambil menunjuk sebuah toko bangunan di barisan toko-toko pasar beringharjo)…” sambung petugas parkir itu.
“nggeh toh… matur nuwun mas…” timpal Fathul sambil menahan malu karena ketahuan mencuri pandang pada wanita tersebut.
******
Suatu malam, kesendirian menuntunnya untuk berimaji, paras manis dibalut kerudung hijau muda, menambah anggun penampilannya pada waktu itu. Gadis dipinggir toko, benar-benar telah menyelipkan sedikit kesederhanaan dalam memori kecil Fathul. Sambil bersantai, ia menyeruput secangkir kopi yang baru dibuatnya. Sepasang cicak di ujung tembok pun turut mengajak angan-angan Fathul untuk sedikit membayangkan indahnya kisah romantis sebuah percintaan.
Bersambung…. ^_^
Mlangi, 30 sept 2009 I 00.30 WIB
(inspirasi by : mas hasan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Yang mau "ngecret", monggo... salah-benar yang penting tertawa... hehehe