Mengganti Sejarah dengan Sejarah
Beberapa waktu lalu, ketua DPR RI periode 2009-2014, Marzuki Alie mengungkapkan rencana pemugaran gedung dewan. Tak main-main, dana yang dianggarkan sebesar Rp 1,8 trilyun yang dibagi selama tiga tahun APBN. Gedung baru tersebut, direncanakan dapat menampung 700 anggota Dewan. Bangunan berlantai 36 itupun didesain berbentuk huruf U terbalik, menyerupai pintu gerbang dengan tiang di kedua sisinya. Keinginan membuat sejarah ialah salah satu alasan pembangunan gedung tersebut.(Koran Tempo, 4 Mei 2010)
Namun, ada hal menarik jika kita mencoba menoleh pada peristiwa pelelangan benda-benda sejarah yang berhasil diangkat dari perairan utara Cirebon. Nilai barang-barang kuno yang terdiri dari logam, batuan, tanah liat, dan lain-lain tersebut ditaksir mencapai Rp 720 miliar. Pemerintah seolah arogan dengan menganggap lelang artefak yang berumur lebih dari 1000 tahun tersebut sah. Maklum, Indonesia merasa tidak melibatkan diri pada konvensi UNESCO tentang Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air.(Kompas, 4 Mei 2010)
Melihat permasalahan diatas, kiranya muncul pertanyaan “pantaskah sejarah dijadikan alasan dalam pemugaran gedung dewan? Sedangkan benda-benda sejarah malah ‘dijual’ (5/5). Lantas, pertanyaan yang mendasar disini ialah, bagaimana wakil kita memaknai sejarah?”
Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno pernah menyatakan “JAS MERAH” yang berarti jangan pernah sekalipun melupakan sejarah. Ada apa dengan sejarah? Hingga kita tidak boleh melupakannya. Menyitir pendapat Asvi Warman Adam (2006:vii) bahwa sejarah bertujuan mengajarkan pada kita sebuah cara menentukan pilihan, untuk mempertimbangkan berbagai pendapat, untuk membawakan berbagai kisah dan meragukan sendiri—bila perlu—kisah-kisah yang kita bawakan. (kata pengantar buku Berpikir Historis? “Memetakan Masa Depan, Mengajarkan Masa Lalu”)
Selanjutnya, Asvi juga memaparkan bahwa sejarah bukan sekedar nama dan tanggal, tapi menyangkut penilaian, kepedulian, dan kewaspadaan.
Ironis, disatu sisi kebanyakan anggota dewan menyepakati rencana pembangunan gedung DPR RI, meski bangunan yang saat ini baru berusia 13 tahun. Tetapi, disisi lain mereka cuek terhadap warisan sejarah. Disini jelas, bahwa pembuatan sejarah oleh para wakil rakyat justru dilakukan dengan cara ‘membuang’ sejarah. Sangat disayangkan, generasi penerus bangsa saat ini disuguhi aksi wakil rakyat yang berambisi membuat sejarah tanpa menghargai sejarah. Padahal, benda-benda yang ditemukan di perairan Cirebon tersebut merupakan saksi bisu pergolakan bangsa yang kini telah merdeka.
Tampaknya para wakil kita belum bisa mengerti maksud wasiat Ir. Soekarno diatas, dan bangsa lain melihat itu sebagai kelemahan. Tak aneh bila kebanyakan peserta lelang adalah museum-museum nasional negara-negara yang mengerti betul bagaimana dan untuk apa sejarah itu. Sebaliknya, berdalih ingin dikenang dimasa 50 tahun mendatang, anggota dewan justru memaknainya dengan memugar gedung DPR RI.
Kutu Raden, 5 Mei 2010 I 21.45
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Yang mau "ngecret", monggo... salah-benar yang penting tertawa... hehehe